Pontianak, Kalimantan Barat

Borneokita.co.id. sejak 2024

KALIMANTAN BARAT

MERIAHKAN MALAM TAKBIR, BARISAN PEMUDA MELAYU KALBAR SELENGGARAKAN MERIAM KARBIT DIHADIRI FORKOPIMDA DAN ORMAS DAYAK

BorneoKita.co.id, Pontianak.- Barisan Pemuda Melayu (BPM) Kalimantan Barat menyelenggarakan kegiatan Meriam Karbit dalam rangka menyambut malam takbiran Idulfitri 1447 H. Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat serta dihadiri unsur Forkopimda Kota Pontianak, perwakilan organisasi masyarakat Dayak, Dandim 1207 Pontianak, Kapolresta Pontianak, Ketua Pengadilan Negeri Pontianak, serta Wali Kota Pontianak.



Ketua BPM Kalimantan Barat, Gusti Eddy BPM menyampaikan apresiasi kepada Forkopimda Kota Pontianak atas kehadiran dan dukungan dalam kegiatan ini. GUSTI Edy juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen BPM dalam melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan BPM dalam kegiatan Meriam Karbit baru berjalan selama dua tahun, dan saat ini BPM telah memiliki lokasi sendiri berkat dukungan dari DPP serta Satgas BPM.



Tradisi Meriam Karbit di Pontianak sendiri merupakan warisan budaya tak benda yang telah lama menjadi bagian dari perayaan malam takbiran Idulfitri di sepanjang tepian Sungai Kapuas. Pada tahun 2026, sebanyak 229 meriam ditempatkan di 37 titik sebagai simbol kemeriahan, sejarah, dan kebersamaan masyarakat. Meriam karbit dibuat dari kayu mabang atau meranti dengan panjang sekitar 5–6 meter dan diameter 50–70 sentimeter. Dengan menggunakan bahan bakar karbit, meriam menghasilkan dentuman keras yang menjadi ciri khas perayaan malam takbiran di Kota Pontianak.



Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 21 Maret 2026 pukul 23.00 WIB di kawasan bantaran Sungai Kapuas, tepatnya di Jl. Tanjung Raya 1, Jl. Pemda Gg. Dharma Putra, RT 01/RW 01, Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur.



Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM. Namun, jumlah pengunjung pada tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya akibat antrean panjang dan kelangkaan BBM di sejumlah SPBU di Kalimantan Barat.



Pada tahun ini, perlombaan Festival Meriam Karbit tidak diselenggarakan. BPM berharap pemerintah dapat kembali mengadakan perlombaan tersebut pada tahun mendatang agar dapat berkembang menjadi event berskala nasional hingga internasional.



Dalam sambutannya, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa Meriam Karbit merupakan tradisi budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang, serta tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat.




Sementara itu, David Oendoen selaku perwakilan Ormas Dayak menyampaikan bahwa tradisi Meriam Karbit mencerminkan kebersamaan dan keharmonisan lintas etnis di Pontianak. Ia juga mengapresiasi BPM atas undangan yang diberikan sebagai upaya mempererat silaturahmi serta menjaga persatuan dalam keberagaman.(BK.Red)